KABARIJEN.com – Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara menyebut Gandrung Sewu tak hanya menjadi strategi yang ampuh untuk mempertahankan kebudayaan lokal dan nasional menghadapi gempuran budaya luar.
Gandrung Sewu sebagai event kebudayaan, kata Made, juga menjadi kekuatan perekat dan mendorong peningkatan perekonomian tidak hanya lokal namun juga nasional.
Terbukti pada Sabtu (16/09/2023) lalu, Gandrung Sewu yang digelar di Pantai Marina Boom Banyuwangi mampu menyedot animo masyarakat dan wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik.
Adapun perputaran ekonomi waktu pagelaran Gandrung Sewu 2023 berdasarkan laporan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, jika ditotal mencapai Rp 4,6 miliar.
“Melalui event budaya semacam ini mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar,” cetus Made, Kamis (21/09/2023).
Politisi sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Banyuwangi ini pun sangat mengapresiasi pagelaran Gandrung Sewu.
Festival tari kolosal yang melibatkan 1.200 penari Gandrung tersebut, kata dia, bisa merangsang kaum milenial untuk melestarikan budaya asli Banyuwangi, khususnya tari Gandrung.
“Festival Gandrung Sewu menjadi trek record Banyuwangi, saya sangat mendukung sekali. Festival ini sebagai bentuk konsolidasi budaya, dan mampu merangsang generasi penerus pelaku seni, khususnya tari Gandrung,” kata Made.
Menurut Made, tari kolosal Gandrung Sewu sangat menarik sekali, karena sebagai bentuk pelestarian Budaya.
“Tari Gandrung itu identitas Banyuwangi yang wajib dilestarikan, ini yang menarik, dan saya sangat mendukung sekali adanya festival Gandrung Sewu ini,” ujarnya.
Pelestarian budaya Gandrung Sewu, lanjut Made, sejalan dengan visi PDI Perjuangan. “Ajaran Bung Karno yaitu Tri Sakti mengajarkan tentang berkepribadian dalam budaya,” imbuhnya.
Made menjelaskan, dalam Tri Sakti Bung Karno menggambarkan sebuah bangsa akan berdiri kokoh bila memiliki kemandirian dalam bidang ekonomi, kedaulatan dalam bidang politik, dan kepribadian dalam bidang kebudayaan.
Kepribadian dalam bidang kebudayaan menjadi kata kunci. Sebab, sebuah bangsa tidak akan bisa menciptakan peradabannya sendiri tanpa pondasi kebudayaan yang kuat.
“Peradaban adalah wujud material dan kebudayaan adalah rohnya,” jelas Made.
Terakhir, Made berharap pagelaran Gandrung Sewu terus menjadi agenda tahunan Banyuwangi. Ia juga meminta agar terus dibenahi dan dievaluasi jika memang ada beberapa kekurangan.
Sebab, Made menambahkan bahwa Bumi Blambangan adalah miniatur Indonesia. Artinya, sesuai semangat nasionalisme, seluruh budaya asli Nusantara wajib hukumnya di uri-uri.
“Apalagi dengan sajian kolosal, dan koreografi yang bagus, Gandrung Sewu terbukti telah menjadi magnet ampuh dalam mendatangkan wisatawan,” tutup dia.





