SIBER TODAY – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso tengah menyusun draf nota kesepahaman (MoU) kerja sama strategis tiga kawasan dengan kabupaten tetangga, yakni Jember, Situbondo, dan Banyuwangi.
Langkah ini dilakukan untuk mendorong percepatan pembangunan dan meningkatkan pelayanan publik, khususnya di bidang ekonomi dan pariwisata.
Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi, mengatakan bahwa penyusunan draf kerja sama antar wilayah ini telah memasuki tahap finalisasi.
“Detail drafnya sudah digodok dan saat ini ada di Kepala Bidang Pemerintahan. Targetnya jelas, yaitu percepatan pembangunan,” kata Fathur saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (2/8/2025).
Menurutnya, kerja sama ini merupakan bagian dari strategi besar Pemkab Bondowoso untuk tumbuh dan maju bersama dengan kabupaten tetangga. Terutama dalam pembangunan infrastruktur kawasan, peningkatan daya saing ekonomi, serta integrasi sektor layanan publik antar wilayah.
Setelah draf kerja sama tiga kawasan rampung, Pemkab juga berencana memperluas skema kolaborasi ke sektor pariwisata. Salah satu yang sedang disiapkan adalah pengembangan kawasan wisata strategis seperti Kawah Ijen, yang selama ini menjadi ikon pariwisata Bondowoso dan Banyuwangi.
“Kalau bicara wisata, maka cakupannya akan lebih luas lagi. Kita akan dorong kerja sama lintas kabupaten dan kota, termasuk dengan daerah-daerah wisata seperti Bromo dan Bali,” jelas Fathur.
Dia menambahkan, pengembangan kawasan wisata harus dilakukan secara terintegrasi. Hal ini mencakup jalur wisata dari Bromo yang melibatkan wilayah Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, hingga Malang, dan konektivitasnya dengan Ijen serta Bali sebagai destinasi internasional.
Meski begitu, Pemkab Bondowoso akan fokus terlebih dahulu untuk mengoptimalkan kerja sama tiga kawasan strategis yang lebih dekat secara geografis dan kultural, yakni Situbondo, Banyuwangi, dan Jember. “Itu prioritas awal kita,” ucapnya.
Fathur mengakui bahwa Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang cukup sukses dalam pengelolaan pembangunan dan pariwisata. Hal ini bisa menjadi pembelajaran berharga bagi Bondowoso dalam mengejar ketertinggalan.
“Kita akui Banyuwangi jauh lebih maju. Maka dari itu kita harus banyak belajar dan menjalin kolaborasi. Tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, untuk mengejar ketertinggalan pembangunan, diperlukan semangat kebersamaan yang dibangun melalui sinergi antar daerah.
Penataan internal pemerintahan, inovasi layanan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan harus terus diperkuat.
Lebih dari itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen daerah, mulai dari birokrasi, dunia usaha, hingga masyarakat sipil, untuk menciptakan inovasi dan kreasi dalam mendukung pembangunan kawasan yang lebih inklusif dan berdaya saing.
“Kolaborasi itu harus menjadi budaya. Kita tidak bisa lagi bekerja sektoral atau eksklusif. Pembangunan harus menyatu dan saling menguatkan, baik antarwilayah maupun antar instansi,” pungkas Fathur. (budhi)





