SIBER TODAY – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggandeng sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Sri Margana untuk melakukan ekskavasi penyelamatan Situs Macan Putih di Kecamatan Kabat.
Situs Macan Putih dulunya merupakan wilayah ibu kota Kerajaan Blambangan pada masa pemerintahan Prabu Tawang Alun II, sekitar tahun 1655 hingga 1691 Masehi.
Selama ini, kawasan situs sudah banyak dikuasai penduduk dan sebagian peninggalannya hilang, menyisakan struktur arkeologis yang masih tertimbun di bawah tanah.
Plt. Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman (DPU CKPP) Banyuwangi, Meylia Maharani, mengatakan kegiatan ini bertujuan melestarikan cagar budaya di Banyuwangi.
“Kami ingin mengidentifikasi ulang situs yang sudah ditemukan di Macan Putih dan menindaklanjuti dengan tindakan konservatif untuk melindungi keberadaan situs yang ada di situ,” kata Meyla, Kamis (23/10/2025).
Ia menambahkan, hasil kegiatan ini akan disusun dalam bentuk naskah akademik dan kajian budaya yang dilengkapi visualisasi arsitektur berbasis budaya asli Banyuwangi.
“Output akhirnya nanti berupa arahan dari ahli cagar budaya untuk menentukan langkah Pemkab, termasuk kemungkinan pembatasan kawasan atau pemugaran,” jelasnya.
Menurut Meylia, kondisi lapangan saat ini cukup mengkhawatirkan karena sebagian situs sudah hilang. Ekskavasi terakhir dilakukan pada 2015 dan belum dilanjutkan kembali.
“Kalau tidak segera kita lindungi, peninggalan sejarah ini akan terus berkurang. Karena itu, kami memulai kembali kajian penyelamatan,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Sri Margana bersama arkeolog UGM sebelumnya telah melakukan ekskavasi di Situs Macan Putih pada 2015. Timnya telah melakukan penggalian di 13 titik dan menemukan berbagai struktural arkeologis.
Diantaranya berupa fundamen bangunan, struktur batu bata di dalam tanah, pondasi reruntuhan bangunan, ada juga pondasi tembok keliling dari Istana Macan Putih.
Beberapa temuan terpisah ada pula berbagai artefak peninggalan Kerajaan Blambangan pada abad ke-17, seperti gerabah, pecahan keramik, dan tulang yang kini dikubur kembali demi pelestarian.
“Kami sedang menyiapkan penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi situs-situs penting dan menentukan langkah konservasi agar situs Macan Putih ini tetap terjaga,” ujarnya.
Selain penelitian lapangan, tim saat ini juga menelusuri arsip Belanda dan kesaksian masyarakat lokal untuk memperkuat data sejarah, serta toponimi-toponimi yang ditemukan di situs Macan Putih.
“Tujuan akhirnya, kami ingin membangun laboratorium sejarah di Macan Putih sebagai tempat pembelajaran sekaligus destinasi wisata sejarah di lokasi itu,” ungkap Margana.
Menurutnya, langkah Pemkab Banyuwangi sangat tepat karena pelestarian situs ini akan menambah daya tarik wisata sejarah di samping wisata alam dan budaya yang sudah berkembang.
“Banyuwangi memiliki narasi sejarah panjang. Bila ini bisa direkonstruksi dan ditampilkan, akan semakin memperkaya daya tarik wisata daerah ini,” tuturnya.
Margana menambahkan, untuk sementara fokus penelitian difokuskan di Macan Putih, namun ke depan bisa diperluas ke situs lain yang ada di Banyuwangi.
“Situs Macan Putih ini yang paling agak terancam secara konservasi, jadi penting untuk segera dilindungi,” ujarnya. (*)





